Perilaku, Habitat dan Konservasi Cenderawasih

oleh : Hadi Warsito

Burung Cendrawasih kecil (Paradisaea minor) salah satu dari sekian banyak satwa burung yang telah mendapatkan perlindungan berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar (Kemenhut 1990, 1999). Menurut Setio et al. (1998), penyebaran Cenderawasih kuning kecil di Papua hampir menyebar merata dari bagian barat dekat kepala burung (Waigeo, Batanta, Salawati, Misool, Kofiau, Gebe dan Gagi), kepulauan di Teluk Cenderawasih (Biak, Numfor, Meosnum dan Yapen) dan kepulauan Aru sampai barat daya Papua.

 

Perilaku
Cendrawasih kuning kecil beraktifitas dalam kelompok kecil atau lek (Setio et al. 1998), dapat dijumpai umumnya dengan komposisi betina lebih banyak. Beberapa jenis cendrawasih dapat terlihat dalam kelompok kecil atau sendirian (soliter), sedangkan pada jenis cenderawasih kuning kecil pada umumnya dapat ditemukan lebih satu, baik itu sepasang (jantan dan betina) ataupun jenis kelamin yang sama. Burung cendrawasih kuning kecil akan mencapai dewasa kelamin dalam waktu sekitar satu tahun. Tanda-tanda dewasa pada burung jantan yaitu ditandai dengan tumbuhnya bulu-bulu hiasan berwarna putih kuning (Irestedt et al., 2009). Pada umumnya jenis burung yang dimorfis dapat dengan mudah diidentifikasi secara visual untuk menentukan kelamin jantan dan betina. Dimana warna bulu burung jantan lebih mencolok dan beragam dibandingkan warna bulu burung betina. Cendrawasih kecil bersifat poligami, dan memiliki sistem perkawinan yang kompleks (Irestedt et al. 2009). Musim kawin dimulai dengan mencari pasangan dan percumbuan (Scholes, 2008), yaitu sekitar bulan Juli dan Agustus pada akhir musim panas, namun penelitian yang dilakukan oleh Gilliard (1969) bahwa perkawinan terjadi pada bulan Maret dan April.
Perilaku bersuara pada burung jantan dapat ditengarai sebagai penguasaan tempat tersebut maupun suatu tanda untuk mencari pasangan kepada betina untuk aktivitas reproduksi. Beehler et al. (2001) menyatakan cendrawasih kuning jantan mengeluarkan suara mengeluarkan suara “yaack” dan “nyaack” untuk menarik perhatian betina agar datang melihat tariannya yang biasanya dilanjutkan dengan perilaku kawin. Dalam satu area lek terdapat beberapa jantan menari dan saling berkompetisi untuk menarik perhatian betina, jantan yang dominan akan menguasai area pertunjukkan (Beehler, 1983). Beehler (1981) dalam Ken et al (2016) menuliskan dalam perkawinan, 1 ekor burung jantan dapat mengawini 7 ekor burung betina. Burung jantan meninggalkan betina setelah selesai masa perkawinan. Betina yang akan membangun sarang dan memelihara anak hingga dewasa.
Menurut Gilliard (1969), cendrawasih kecil mulai banyak bergerak dan melakukan aktivitas setelah matahari terbit, namun aktivitas akan menurun ketika cuaca sangat panas dan menjelang sore hari. Berdasarkan perilaku alaminya, cendrawasih jantan akan aktif bersuara pada sore hari menjelang matahari terbenam. Perilaku bermain dilakukan di daerah percabangan rendah hingga percabangan miring, diiringi dengan tarian yaitu merentangkan sayap. Beehler et al. (2001) mendeskripsikan jantan muda biasanya ikut bermain meskipun bulunya belum tumbuh sempurna, dan betina hinggap diam-diam ketika jantan sedang membentangkan sayapnya, ketika jantan membuat gerakan kaku maka betina akan menggigit leher jantan, permainan akan berakhir dengan teriakan jantan dan diikuti teriakan jantan lain lalu terbang (Rand dan Giliiard 1967).

Habitat
Habitat merupakan tempat suatu makhluk hidup dan berinteraksi dengan berbagai komponen, yaitu komponen fisik yang terdiri atas air, tanah, topografi dan iklim (makro dan mikro) serta komponen biologi yang terdiri atas manusia, tumbuhan dan satwa (Irwan 2003; Smieth 1986). Kerusakan habitat dapat mempengaruhi keberadaan keanekaragaman jenis didalamnya. Oleh karena itu untuk melindungi keanekaragaman hayati adalah dengan menjaga dan memelihara habitat suatu satwa (Warsito & Yuliana 2007).
Disisi lain habitat adalah salah satu dari beberapa faktor pendukung terhadap keberadaan satwa. Kuswanda (2010) menyatakan beberapa jenis burung bahkan menggunakan berbagai tipe habitat tersebut untuk mencari makan, reproduksi, dan menjaga kelangsungan hidupnya. Dalam habitatnya, burung memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan sebagai sumber pakan, tempat sarang serta tempat berlindung secara fisiologis (Partasasmita 2003). Burung Cendrawasih merupakan salah satu jenis satwa yang memerlukan habitat sesuai dengan perilakunya. Perilaku yang ditunjukan oleh cendrawasih dalam aktifitasnya di mulai saat pagi hari di pohon. Habitat yang disukai adalah tegakan yang tinggi dengan percabangan yang relatif tidak rapat dan adanya jenis-jenis tumbuhan merambat di sekitar pohon bermain (Setio et al 1998; Latupapua 2006). Beberapa jenis pohon kerap menjadi tempat bermain bagi cendrawasih, namun hal ini tergantung keberadaan jenis tersebut di daerah tempat cenderwasih berada. Pohon Instia sp. (kayu besi), Ficus sp. (beringin) dan Myristica sp. merupakan di antara pohon yang menjadi tempat bermain cendrawasih. Burung cendrawasih senang bermain pada pohon Ficus benjamina, Hapololobus sp, Palaquium sp dan Pandanus sp. dengan ketinggian 50-60 m (Latupapua 2006). Latupapua (2006) mengemukakan bahwa salah satu jenis pohon yang biasanya digunakan oleh cendrawasih sebagai habitat kawin, dan istirahat di alam adalah jenis beringin (Ficus benjamina), dan ranting-ranting kering digunakan di habitat alaminya untuk membuat sarang (Gilliard 1969),
Ketersediaan pakan dan tempat berlindung maupun aktifitas lain yang mendukung bagi satwa di habitat tersebut membuat burung terasa nyaman. Burung memerlukan habitat untuk mencari makan, minum, berlindung, bermain dan tempat untuk berkembang biak (Alikodra 2002; Anonimus 2002). Apabila keadaan habitat sudah tidak sesuai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka reaksi yang muncul adalah satwa tersebut akan berpindah mencari tempat lain yang menyediakan kebutuhannya (Reed 1999; Masy’ud 1989).
Kuswanda (2010) menyatakan bahwa keragaman jenis burung sangat dipengaruhi oleh potensi tumbuhan yang terdapat dalam habitatnya, terutama tumbuhan yang dapat menjadi sumber pakan. Ketersediaan pakan dalam suatu tipe habitat merupakan salah satu faktor utama bagi kehadiran populasi burung (Wiens 1992). Pakan alami burung cenderawasih sangat bervariasi mulai dari jenis, bentuk dan ukuran buah. Beehler (1983) mendeskripsikan pakan cendrawasih di alam terbagi menjadi 3 kelompok morfologi yaitu bentuk fig (F) seperti kurma, drupe (D) seperti buah beri, dan berbentuk capsule (C) seperti Myristica sp, Aglaia sp, Sterculia sp. Alhamid et al. (1993) menuliskan bahwa pakan burung cendrawasih kecil adalah jenis buah-buahan terutama jenis buah berry, biji-bijian, serangga, dan ulat. Setio (1998), melaporkan ukuran buah yang disukai burung cenderawasih seperti Disoxylum sp., Myristica sp., dan Ficus spp. Beberapa jenis pakan yang dikonsumsi P. m. jobiensis adalah Syzygium sp, Palaquium amboinense, Ficus glandulifera, Ficus variegata, Ficus benjamina, Pticoperma macarturri, Pandanus sp. dan Eugenia sp. (Raunsay 2014). Selain pakan buah alami, cendrawasih memerlukan pakan hidup berupa serangga (hewani). Ken et al. (2016) mengemukakan bahwa pakan hidup yaitu serangga dan jangkrik dengan nilai tingkat konsumsi 100%. Hal ini sesuai dengan penelitian Buntu (2002) di Penangkaran Biak, Yapen, Provinsi Papua menunjukkan bahwa cendrawasih lebih suka memakan ulat dan pakan hidup. Pakan hidup memilki nilai protein dan lemak yang tinggi, sehingga akan memberikan energi dalam tubuh, menyediakan sumber lemak badan sumber bulu, dan kuku (Tillman et al dalam Buntu 2002). Energi sangat penting untuk mendukung aktivitas sehari-hari cendrawasih kecil (Kateran 2010).

Upaya Konservasi
Kawasan hutan baik hutan rakyat, hutan lindung, hutan produksi maupun kawasan hutan konservasi merupakan kawasan yang perlu dijaga dan dilindungi. Namun akhir-akhir ini penggunaan kawasan yang tidak terencana dengan baik dapat mempengaruhi keberadaan kawasan tersebut termasuk adanya perambahan dan eksploitasi yang berlebihan guna kepentingan jangka pendek. Akibat yang ditimbulkan dari tindakan pihak tidak bertanggung jawab tersebut adalah rusaknya habitat pada kawasan hutan yang pada akhirnya menjadi ancaman terhadap keanekaragaman hayati termasuk keragaman jenis burung di dalamnya. Tekanan terhadap habitat dan berkurangnya sumber pakan burung menyebabkan satwa burung keluar dari habitat untuk mencari makan dan berlindung. Ancaman utama terhadap populasi dan spesies burung adalah 1) Konversi hutan berskala besar untuk kegiatan pembalakan kayu, pertanian, perkebunan, dan transmigrasi. 2) Perdagangan gelap burung. Praktek ini meluas di Papua, tetapi dampaknya belum diketahui. Spesies yang berisiko termasuk, burung Cenderawasih, betet, nuri, dan kakatua (Anonimous. 1997).
Upaya konservasi saat ini belum terlihat secara nyata di Papua. Namun keberadaan kelompok pemerhati lingkungan, pecinta lingkungan dan Non Goverment Organisation (NGo) yang bergerak dibidang konservasi maupun lingkungan di Papua, setidaknya mempunyai andil dalam bidang konservasi. Upaya-upaya konservasi secara bertahap diharapkan dapat merubah kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan hutan. Salah satu upaya konservasi dalam perlindungan cendrawasih yang telah dilakukan adalah pengelolaan kawasan hutan/habitat Cendrawasih. Cendrawasih merupakan jenis yang sangat berharga di kawasan hutan Papua yang perlu dijaga dan lindungi.

Daftar Pustaka
Anonimous. 1997. Lokakarya Penentuan Prioritas Konservasi Keanekaragaman Hayati Irian Jaya. 1997

AlHamid H, Maturbolongs L, Wanggai Y. 1993. Habitat, Makanan dan Bermain Burung Cendrawasih Kecil (Paradisae Minor Minor Shaw) Di Cagar Alam Pegunungan Arfak. Jurnal Penelitian Kehutanan Kehutanan 1(2).

Alikodra HS. 2002. Pengelolaan Satwaliar. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Anonimus. 2002. The Four Essential Elements of Habitat Food, Water, Cover, Space. http://www.BirdDay.org. Diakses 5 November 2007

Beehler B. 1983. Lek behaviour of the lesser bird of paradise. Auk. 100: 992-995.

Beehler B, Pratt TK, Zimberman DA. 2001. Burung Burung di Kawasan Papua. Bogor (ID): LIPI Puslitbang Biologi.

Buntu E. 2002. Tingkat kesukaan burung cenderawasih (Paradisaea sp) terhadap beberapa jenis pakan di Taman Burung dan Taman Anggrek Biak [skripsi]. Manokwari (ID): Univeritas Negeri Papua.

Gilliard ET. 1969. Birds of Paradise and Bower Birds. London (GB): Weidenfeld and Nicolson.

Irestredt M, Jonsson KA, Fjeldsa J, Christidis L, Ericson PGP. 2009. An unexpectedly long history of sexual selection in bird of paradise. BMC Evol Bio. 9(235): 1-11.

Irwan Z.D. 2003. Ekosistem Komunitas dan Lingkungan. Jakarta (ID): Bumi Aksara

Kateran P.P. 2010. Requirement of nutrient of poultry livestock in Indonesia. Wartazoa. 20(4): 172-180.

Ken D. C., J.B., Hernowo Dan B. Masyud. 2016. Upaya Konservasi Cendrawasih Kecil (Paradisaea Minor Shaw, 1809) Yang Dilakukan Oleh Taman Burung TMII dan MBOF. Media Konservasi Vol. 21 No. 1 April 2016: 27-35

[Kemenhut] Kementerian Kehutanan. 1990. Undang-Undang Nomor 5 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

[Kemenhut] Kementerian Kehutanan. 1999. Peraturan Pemerintah Nomor 7 tentang daftar jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi

Kuswanda, W. 2010. Pengaruh Komposisi Tumbuhan Terhadap Populasi Burung Di Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara. Jurnal Peneltian Hutan dan Konservasi Alam Vol. VII No.2 : 193-213, 2010.

Latupapua L. 2006. Kelimpahan dan sebaran burung cendrawasih (Paradisaea apoda) di Pulau Aru Kabupaten Kepulauan Aru Propinsi Maluku. Jurnal Agroforestri. 1(3): 40-49.

Masy’ud B. 2002. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis Menangkarkan Cucak Rawa. Jakarta (ID): Agro Media Pustaka.

Masy’ud B. 2010. Teknik Menangkarkan Burung Jalak di Rumah. Bogor (ID): IPB Press.

Partasasmita, R. 2003. Ekologi Burung Pemakan Buah dan Peranannya Sebagai Penyebar Biji. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Rand AL, ET Gilliard. 1967. Handbook of New Guinea Birds. London (GB): The Trinity Press.

Reed, J. M. 1999. The Role of Behavior in Recent Avian ExtInctions and Endangerment. Conservation Biology Vol. 13 (2) 232-241.

Raunsay EK. 2014. Peran masyarakat dalam pelestarian (Paradisaea minor jobiensis Rothschild 1897) di Barawai Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papya [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Smieth D. 1986. Management of Habitat. School of Environmental ConservationManagement. Bogor (ID): P-1

Setio, P., Y. O. Lekitoo Dan J. Ginting. 1998. Habitat Dan Populasi Burung Cenderawasih Kuning Kecil (Paradisea Minor Jobiensis Roth) Serta Pengelolaannya Secara Tradisional Di Barawai, Yapen Timur. Buletin Penelitian Kehutanan Vol. III No. 2. Balai Penelitian Kehutanan Manokwari

Wiens, J.A. 1992. The Ecology of Bird Communities I: 241-374. Foundations and Patterns. Cambridge University Press.

Warsito H dan Yuliana S. 2007. Keanekaragaman Jenis Burung di Saribi Numfor Barat Papua: Beberapa Catatan. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 4(6):553-560.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Foto Bulan Ini

Pos-pos Terbaru

Buku

Teknik Penagkaran Burung Mambruk (Goura Sp.)

Buku yang di tulis oleh Hadi Warsito ini menjelaskan tentang Burung Mambruk (Gorua Sp.)  yang di kategorikan mendapat perlindungan dari ...

Baca selengkapnya

30 Tahun Wanariset Anggresi

Buku 30 Tahun Wanariset Anggresi: Sebuah Hasil Kerja Bersama merupakan buku yang dibuat untuk memperkenalkan salah satu aset berharga BP2LHK Manokwari yang ...

Baca selengkapnya

Rediversifikasi Pangan Papua 2

Buku ini mengungkapkan keanekaragaman flora tanah Papua dan pemanfaatannya oleh masyarakat tradisional dan prospek pengembangan sebagai diversifikasi bahan pangan. Buku ...

Baca selengkapnya

Rediversifikasi Pangan Papua 1

Buku ini mengungkapkan keanekaragaman flora tanah Papua dan pemanfaatannya oleh masyarakat tradisional dan prospek pengembangan sebagai diversifikasi bahan pangan. Buku ...

Baca selengkapnya

Warta Matoa

Link Terkait

  • Pengunjung

    0031488
    Hari ini : 97
    Kemarin : 120
    Bulan ini : 2584
    Total Kunjungan : 31488
    Hits Hari ini : 445
    Total Hits : 97223
    Who's Online : 2
    plugins by Bali Web Design

    Visitor Map

    Flag Counter
    Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup Dan kehutanan