Background
Manokwari, Jl. Inamberi - Susweni Po Box 159, Manokwari - Papua Barat 98313
(+62986) 213-441 datinfomkw@gmail.com

HARI HUTAN INTERNASIONAL DI MANOKWARI (Langkah Menuju TWA Gunung Meja Bagus…!!!)

Hari Hutan

Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manokwari sebagai satu-satunya institusi litbang kehutanan di Papua sangat peduli dengan kelestarian dan pemanfaatan TWA Gunung Meja. Hal ini salah satunya dapat ditunjukkan dengan partisipasi dalam Seminar terkait pengelolaan TWA tersebut. Bertempat di Aula Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua (UNIPA), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kehutanan UNIPA pada tanggal 20 Maret 2017 menyelenggarakan semIMG_4312 inar sehari dalam rangka memperingati Hari Hutan Internasional. Seminar yang bertajuk “Make TWA Gunung Meja Great Again” merupakan bentuk keprihatinan dan kepeduliaan civitas akademika Fakultas Kehutanan Papua dan stakeholder terkait lainnya termasuk BP2LHK Manokwari dalam membangun dan mengelola kembali TWA Gunung Meja. Seminar yang dihadiri oleh UPT Kementerian LHk, pemerintah daerah, anggota DPRD, LSM, media massa, dosen dan mahasiswa UNIPA tersebut dibuka oleh Dekan Fakultas Kehutanan UNIPA, Ir. Bernadus B. Rettob, M.Si. yang dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa TWA Gunung Meja dapat menjadi icon Kota Manokwari dikarenakan letak yang strategis, fungsi hidro-orologis dan keanekaragaman hayati yang dimiliki sehingga perlu dikelola secara optimal. Seminar ini menghadirkan 3 narasumber yaitu Kepala BP2LHK Manokwari Dana Apriyanto, S.Hut, MT. M.Sc, Kepala Bidang Wilayah II Manokwari Balai Besar KSDA Papua Barat Glen Eric Kanginan, S.Hut, M.Si, Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Provinsi Papua Barat Samy Djunire Saiba, SP, M.Si dan bertindak selaku moderator Ir. Max Tokede, M.Si Dosen Fahutan UNIPA.

Dalam paparannya, Dana Apriyanto menyampaikan potensi luar biasa yang dimiliki TWA Gunung Meja baik flora maupun fauna yang diperoleh dari sintesa hasil penelitian tim peneliti BP2LHK (yang dikoordinir oleh Krisma Lekitoo, M.Sc) sejak tahun 2003. Potensi flora disebut TWA ini memiliki setidaknya 101 jenis pohon tumbuhan berkayu dari 34 famili, 9 jenis palem, 3 jenis rotan, 26 jenis anggrek, 48 jenis herba, 8 jenis bambu, 35 jenis pakua-pakuan, 28 jenis semak/perdu, 8 jenis pandan dan 41 jenis liana. Dari jenis-jenis flora tersebut telah dikategorikan langka oleh LIPI. Sedangkan dari potensi fauna, dalam TWA ini ditemukan 35 jenis burung,  7 jenis kadal, 3 jenis amfibi, 9 jenis ular, 1 jenis Kura-kura, 11 jenis mamalia dan 12 jenis kupu-kupu. Disamping itu disampaikan juga potensi alam lainnya seperti mata air, gua alam dan situs bersejarah yang ada didalamnya. Untuk mendukung pengelolaan TWA, sejak tahun 2003 BP2LHK Manokwari telah melakukan penelitian dan sampai saat ini telah dibangun 50 plot permanen seluas 50 ha untuk pengamatan kontinyu dinamika keanekaragaman hayatinya. Disampaikan pula mengenai peran yang dapat dimaksimalkan oleh TWA ini sebagai lokus penelitian, pendidikan, konservasi keanekaragaman hayati, pelindung tata air dan tempat wisata. Potensi wisata TWA ini cukup tinggi hal ini dikarenakan resultan dari posisi strategis di tengah kota, karakteristik alam, keanekaragaman hayati dan situs bersejarah yang terdapat didalamnya. Khusus untuk pengembangan wisata ini diperlukan identifikasi dan penetapan target pengunjung, perbaikan infrastruktur dan perbaikan pengelolaan TWA. Untuk tercapainya hal tersebut diperlukan komitmen para pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan dan masyarakat luas.

Sementara itu, Glen Eric menyampaikan sejarah penetapan TWA dan kegiatan pengelolaan TWA yang dilakukan BBKSDA Papua Barat selaku pengelola kawasan. Namun demikian, dengan berbagai kendala yang dihadapi disampaikan juga bahwa kegiatan pengelolaan yang dapat dilakukan sampai saat ini adalah pengamanan dan perlindungan dengan intensitas yang belum maksimal. Sedangkan Samy Junire Saiba memaparkan perlunya mengacu pada rencana tata ruang, integrasi pembangunan infrastruktur TWA ke dalam Rencana Detil Tata Ruang Daerah (RDTR) dan Grand Design Pembangunan Infrastruktur TWA Gunung Meja.IMG_4313

Dalam diskusi yang berkembang, seluruh peserta sepakat bahwa TWA Gunung Meja merupakan icon Kota Manokwari yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai kebangggan daerah dan dapat memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Untuk itu komitmen bersama para pemangku kepentingan dan manajemen kolaboratif menjadi pilihan yang harus dilaksanakan untuk mencapai pengelolaan optimal dimaksud. Namun demikian tetap diperlukan lead institution dan pembagian peran dari masing-masing pemangku kepentingan. Hal lain yang muncul dalam diskusi adalah kewenangan pengelolaan dimana TWA sebagai kawasan konservasi maka kewenangan pengelolaan ada di pemerintah pusat dalam hal ini BBKSDA Papua Barat, sehingga perlu ditemukan terobosan agar stakeholder lain khususnya pemerintah daerah dapat berperan aktif dalam pengelolaan tersebut. Sampai saat ini, Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Kehutanan juga sangat mendukung pengelolaan TWA diantaranya dengan pembangunan pagar kawasan yang dimaksudkan untuk membendung tekanan perluasan pemukiman di kawasan TWA. Kerjasama pengelolaan dengan pemerintah daerah dapat menjadi alternatif terbaik untuk mencapai pengelolaan TWA yang maksimal dengan tetap memperhatikan peraturan-peraturan yang ada baik mencakup peraturan kehutanan, tata ruang, pemerintah daerah, keuangan dan sebagainya. Peserta seminar juga menyampaikan perlunya tindak lanjut seminar berupa action konkret dan tidak sebatas penyusunan rencana serta perlunya diselenggarakan seminar yang lebih besar dengan melibatkan lebih banyak para pengambil keputusan sehingga implementasi pengelolaan TWA menjadi lebih terjamin. Sementara itu hasil-hasil penelitian yang telah diperoleh oleh Tim Peneliti BP2LHK,  hasil penelitian UNIPA dan hasil penelitian institusi lain merupakan modal berharga dan dapat diimplementasikan dalam pengelolaan TWA ke depan.

Seminar sehari diakhiri dengan penutupan yang dipimpin oleh Kepala BP2LHK Manokwari yang menyampaikan apresiasi tinggi kepada penyelenggara dan peserta dan  menekankan agar semangat “to make TWA Gunung Meja Great Again” tidak hanya berhenti dalam seminar dan perencanaan saja melainkan harus ditindaklanjuti dan diimplementasikan dalam kegiatan yang nyata. Komitmen bersama dan kerja bersama menjadi kata kunci dalam pengelolaan TWA ke depan. Disamping itu juga perlu disusun pentahapan dalam implementasi pengelolaan TWA. Let’s make TWA Gunung Meja Greater and Greater Together”. (red_dan)

Print Friendly

Tinggalkan Balasan

Show Buttons
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Youtube
Hide Buttons