Background
Manokwari, Jl. Inamberi - Susweni Po Box 159, Manokwari - Papua Barat 98313
(+62986) 213-441 datinfomkw@gmail.com

“Taman Wisata Alam Gunung Meja” Surga Kecil Manokwari

gapura

Taman Wisata Alam Gunung Meja di Manokwari, Papua Barat adalah salah satu dari beberapa lokasi TWA dataran yang ada Indonesia yang hingga saat ini belum mendapat perhatian yang khusus dalam menangani dan menyikapi kawasan pelestarian tersebut. Bila dilihat, potensi dan manfaatan kawasan ini sangat menjanjikan yang dapat dijadikan aset pemerintah dalam meningkatkan PAD dan sebagai penyimpan maupun pengawetan keanekaragaman jenis baik flora, fauna dan ekosisemnya.

Hutan Taman Wisata Alam Gunung Meja (TWA Gunung Meja) ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 19/Kpts/UM/I/1980, tanggal 12 Januari dengan luas areal 500 ha. Namun setelah dilakukan rekontruksi penataan batas kawasan pada tahun 1990 oleh Sub Balai Inventarisasi dan  Penataan Hutan Manokwari, diperoleh luasan definitif yaitu 460,25 ha. Sebagai kawasan pelestarian TWA Gunung Meja merupakan salah satu hutan dataran rendah di Manokwari yang mempunyai potensi flora dan fauna yang beragam dengan bentuk wilayah yang unik.  Karena bentuk wilayah yang unik tersebut terutama struktur geologi dan dengan kepadatan vegetasi hutannya serta letaknya yang dekat dengan kota maka hutan ini disebut juga sebagai hutan. Lindung Hidro-orologis (pengatur tata air). Secara geografis hutan TWA gunung Meja terletak antara koordinat 1340 0430 -1340 0532Bujur Timur dan  00 5025 – 00 5155 Lintang Selatan. Formasi geologis di daerah ini mediteran dengan batuan sedimen neogen. Lapisan tanah dangkal dan berbatu di antara batuan kapur keras. Dengan ketinggian tempat mencapai 175 m dpl, kawasan ini memiliki topografi yang bervariasi. Mulai dari datar hingga bergelombang ringan sampai berat, pada beberapa daerah tertentu dijumpai jurang yang terjal dan lereng yang tajam. Klasifikasi Schmidt and Furguson, kawasan ini termasuk dalam  tipe iklim A dengan curah hujan tahunan sebesar 2.684,5 mm per tahun atau sekitar 220,71 mm per bulan. Rata-rata suhu maksimum berkisar pada 30,3 0C dan suhu minimum berisar pada 23,5 0C, dengan kelembaban maksimum 88,6% dan minimum sekitar 84%.

Kawasan pelestarian yang saat ini menjadi tumpuan masyarakat di kota Manokwari sebagai penyimpan/penyedia air, meski lambat namun pasti akan menjadi daerah yang terabaikan. Hal ini dapat dilihat bila memasuki kawasan melewati jalan sebelah Barat (melintasi jalan Sarinah sebelum menuju Desa Ayambori), dimana tumpukan sampah yang telah membusuk dan beberapa tumpukan lainnya yang masih baru banyak berserakan, begitu pula tumpukan sampah yang terlihat disepanjang jalan pada bagian Utara yang melintasi UNIPA. Demikian juga nampak pada bangunan Tugu Jepang yang telah rusak (hancur) akibat ulah orang yang tidak bertangung jawab.

Selain kurangnya kesadaran masyarakat yang tidak bertanggungjawab akan kebersihan, demikian juga terlihat pada pengambilan kayu maupun keragaman jenis lainnya yang ada di kawasan tersebut. Hadi Warsito peneliti BP2LHK Manokwari menuturkan “Pengambilan kayu bakar maupun kayu yang diperuntukan sebagai pagar kebun dan pembuatan pondok sering terjabuah gumedi”. Kegiatan pengambilan kayu bakar umumnya pada pohon (diameter lebih 45 cm) dilakukan dengan mematikan (mengupas kulitnya), sehingga pohon tersebut mati dan akan roboh. Hal ini dilakukan selain mengambil ranting-ranting yang telah jatuh ke tanah. Sementara untuk pengambilan kayu lainnya (diameter dibawah 20 cm), banyak terjadi pada saat kegiatan pesta keagamaan maupun hari besar lainnya untuk pembuatan pondok. Selain perambahan pohon maupun tiang, terjadi juga dalam pengambilan beberapa jenis tanaman lainnya. Anggrek, Palem, dan beberapa tanaman hias lainnya dari jenis Cyrthos sperma sp., Alaoecacia sp., Tiponium dan lain-lain. Pada jenis-jenis tersebut banyak terdapat di kawasan ini, sehingga menjadi incaran bagi para pemburu tanaman hias karena harganya yang cukup menjanjikan di pasaran. Sungguh ironis dan penuh dilema kondisi TWA Gunung Meja saat ini, disatu sisi ingin dijadikan objek pendapatan asli daerah disisi lain kerusakan yang ditimbulkan akibat ulah “nakal” para pengunjung dan pengoleksi tanaman hias dan langka yang membahayakan kelestarian konservasi. (17-10-16)

Print Friendly

Tinggalkan Balasan

Show Buttons
Share On Facebook
Share On Twitter
Share On Google Plus
Share On Youtube
Hide Buttons