MENGENAL MASOI, HHBK ANDALAN PAPUA

Beberapa jenis produk HHBK di Indonesia telah lama diusahakan dan diambil hasilnya oleh masyarakat sekitar hutan untuk mencukupi  kebutuhan mereka. Bahkan sebagian masyarakat menggunakan produk-produk HHBK sebagai alternatif mata pencaharian ketika terjadi kesulitan ekonomi atau bahkan satu-satunya sumber penghasilan. Salah satu jenis HHBK yang menjadi primadona di Papua adalah masoi (Cryptoria sp).

Walaupun telah diekploitasi dan diekstraksi sejak tahun 1980-an, status jenis ini saat ini belum jelas berapa besar potensi riil di alam dan kondisinya. Secara umum keberadaan populasi pohon ini di Maluku sudah sangat sulit ditemukan dan aktivitas pemanfaatan nilai ekonomis pohon massoi dalam skala besar saat ini hanya berlangsung di Papua. Di lain pihak permintaan dari produk jenis ini semakin tinggi dan terus meningkat. Kebutuhan minyak massoi dunia saat ini 100% diperoleh dari Papua. Bahkan banyak daerah lain yang tidak terdapat jenis ini berlomba-lomba mengembangkannya.

Masoi (Cryptoria sp) menyebar di Indonesia tanaman paling banyak ditemui di dataran rendah di Maluku dan di Papua pada 400-1000 mdpl. Populasi Massoi di Papua dapat dijumpai di wilayah kabupaten Nabire, Kaimana, Fak-fak, Merauke, Jayapura, Sarmi, dan Manokwari (deleygeven, 2013).

Pemanfaatan Masoi oleh masyarakat lokal selama ini belum optimal karena bagian yang dimanfaatkan hanya kulitnya saja sementara kayunya dibiarkan lapuk dan membusuk. Hal tersebut akan memberikan dampak yang sangat merugikan dari sisi konservasi karena secara tidak langsung menyebabkan berkurangnya populasi Masoi di alam. Padahal kayu masoi juga mengandung senyawa yang hampir sama dengan kandungan senyawa pada kulitnya (Gatot, et al, 2007).

Pengembangan/budidaya tanaman masoi masih sangat terbatas baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Padahal peluang untuk peningkatan perekonomian sangat tinggi. Harga minyak masoi di pasar dalam negri bisa mencapai Rp. 20.000.000,-/l, sedang harga pasar dunia antara $ 250-350/kg tergantung tingginya kadar lactone.  Apabila tidak dilakukan tindakan konservasinya, maka dikhawatirkan jenis ini akan punah diwaktu yang akan datang. Oleh karena itu untuk memperoleh  produktivitas dan nilai ekonomi komoditi masoi yang tinggi, sangat diperlukan penelitian dan pengembangan tentang pengelolaan komoditi masoi yang dapat menghasilkan paket IPTEK potensi dan sebaran, teknik budidaya (termasuk pemuliaan dan bioteknologi), pemanenan dan pengolahan serta kajian sosial ekonomi dan kebijakan komoditi masoi.

Kajian/penelitian tentang masoi sampai saat ini baik di di Papua maupun di luar Papua masih sangat terbatas.  Berdasarkan hasil penelitian komoditi Massoi yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan masih dalam tahap preliminery.

Inventarisasi potensi saat ini, eksplorasi dan budidaya HHBK jenis ini adalah jawaban yang paling tepat untuk mengatasi persoalan di atas. Namun, sebagaimana yang terjadi pada kebanyakan produk HHBK, terkendala oleh banyak faktor, antara lain skala pemanfaatan yang rendah, dilakukan dalam skala kecil, keterbatasan modal, peraturan yang tidak mendukung dan kurangnya penguasaan iptek. Oleh sebab itu, penelitian dan pengembangan menjadi kunci bagi terbukanya pintu menuju pengelolaan HHBK alam yang berkelanjutan dan budidaya yang berskala besar, didukung dengan permodalan yang kuat dan peraturan/kebijakan yang tepat.

Diskripsi Singkat dari Masoi:

Jenis : Cryptocarya massoia (Oken) Kosterm
Famili : Lauraceae
Nama dagang : Masoi, medang
Perawakan : pohon berukuran sedang, tingginya mencapai 25-35 m
Batang utama : Silindris, sedikit berbuncak, berpelin tapi tidak berlekuk, bebas cabang mencapai 20 m, dengan diameter setinggi dada 100 cm, berbanir dengan tinggi mencapai 1 m dan lebar 2 m
Pepagan kulit : Kulit luar kasar, agak bersisik kecil-kecil, berwarna merah, coklat atau abu-abu keputihan, tebalnya 1 cm, tidak bergetah, kulit dalam  keras, berbau harum, mudah patah, berwarna kuning jingga
Daun : Tunggal, kedudukan daun tersebar, bentuk daun menjorong hingga lonjong, atau hamper membundar, panjang 6,5-12 cm, dan lebar 3 -6 cm, pangkal tidak sama besar, membundar, tepi rata atau gelombang, ujung runcing hingga melancip, urat daun nampak pada permukaan bawah daun dan permukaan atas tenggelam, urat daun sekunder menyirip dan urat daun tersier menjala
Perbungaan : Majemuk berwarna kuning hijau dengan enam buah mahkota yang berbentuk elips,malai, berbulu keperakan, terdapat pada ujung ranting dan ketiak daun
Buah : Bulat, melonjong hingga membulat telur, berdiameter 1 cm
Biji : Tunggal, 1 buah terdapat 1 biji

*** Khuswandi ***

Sumber Foto :
http://www.tbg.org.tw/tbgweb/cgi-bin/view.cgi?forum=45&topic=2703

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Foto Bulan Ini

Buku

Teknik Penagkaran Burung Mambruk (Goura Sp.)

Buku yang di tulis oleh Hadi Warsito ini menjelaskan tentang Burung Mambruk (Gorua Sp.)  yang di kategorikan mendapat perlindungan dari ...

Baca selengkapnya

30 Tahun Wanariset Anggresi

Buku 30 Tahun Wanariset Anggresi: Sebuah Hasil Kerja Bersama merupakan buku yang dibuat untuk memperkenalkan salah satu aset berharga BP2LHK Manokwari yang ...

Baca selengkapnya

Rediversifikasi Pangan Papua 2

Buku ini mengungkapkan keanekaragaman flora tanah Papua dan pemanfaatannya oleh masyarakat tradisional dan prospek pengembangan sebagai diversifikasi bahan pangan. Buku ...

Baca selengkapnya

Rediversifikasi Pangan Papua 1

Buku ini mengungkapkan keanekaragaman flora tanah Papua dan pemanfaatannya oleh masyarakat tradisional dan prospek pengembangan sebagai diversifikasi bahan pangan. Buku ...

Baca selengkapnya

Warta Matoa

Pos-pos Terbaru

Link Terkait

  • Pengunjung

    0106207
    Hari ini : 87
    Kemarin : 100
    Bulan ini : 1033
    Total Kunjungan : 106207
    Hits Hari ini : 971
    Total Hits : 1192981
    Who's Online : 3

    Hari Anti Korupsi Sedunia Tahun 2020

    Hari Anti Korupsi Sedunia Tahun 2020

    Bangga Buatan Dalam Negeri

    Bangga Buatan Dalam Negeri

    FORDA ANNIVERSARY

    Visitor Map

    Flag Counter
    Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup Dan kehutanan