Live talk ini bertujuan untuk shearing informasi khususnya kepada para anggota Tambora muda Indonesia dan Masyarakat luas tentang “Keanekaragaman Flora Dan Tipe Ekosistem Yang Ada di Papua”. Sebagai Pembicara kunci adalah Peneliti BP2LHKM Pak Krisma Lekitoo, S.Hut., M.Sc , Dan di pandu oleh moderator yang tak lain adalah ketua Tambora Muda itu sendiri Zera , Pada Penyampaiannya pada pembuka pak Krisma atas nama balai mengucapkan “Terima kasih kepada Tambora Muda karena telah mengundang dan memberikan kesempatan kepada saya untuk berbicara tentang keanekaragaman Flora dan Tipe ekosistem di tanah Papua”.

Perubahan iklim adalah hal yang telah terjadi dan tidak bisa diingkari lagi, akibatnya juga telah dirasakan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Demikian antara lain penyampaian Dr.Henry Bastaman, MES, Kepala Badan Litbang dan Inovasi Lingkungan Hidup & Kehutanan saat mengawali acara Sosialisasi Perubahan Iklim dan Langkah Tindak Lanjut Pasca COP-21, di ruang pertemuan Mansinam Beach Hotel Manokwari, Kamis, 21 Juni 2016.

Beliau menambahkan serangkaian informasi dan data menyangkut kondisi perubahan iklim di seluruh dunia dan sejarah konvensi perubahan iklim hingga kini.

Beberapa contoh perubahan dalam kondisi alam di Indonesia seperti meningkatnya musim hujan dan musim kemarau yang ekstrim juga ikut diutarakan.IMG_0445

Hingga kini telah disepakati bahwa perubahan iklim ini sebagian besar merupakan akibat pengaruh manusia dan akan terus terjadi sampai masa mendatang.

Oleh karena itu, perubahan cara hidup seperti mengurangi emisi karbon secara terus-menerus menjadi salah satu upaya untuk mengurangi akibat perubahan iklim yng merugikan.

Keikutsertaan Indonesia dalam kesepakatan pencegahan dan pengurangan perubahan iklim tingkat dunia telah ditunjukkan melalui penandatanganan Perjanjian Paris/Paris Agreement, yang diupayakan tindak lanjutnya melalui ratifikasi menjadi Rancangan Undang-Undang beserta sosialisasi pada beberapa provinsi di seluruh Indonesia.

Hal-hal tersebut ditanggapi secara baik oleh Pemerintah Provinsi yang diwakili Drs. Nataniel Mandacan, M.Si., Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat.

Sekda menyampaikan kembali komitmen Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui pencanangan Papua Barat sebagai Provinsi Konservasi yang mengupayakan agar seluruh pengelolaan sumber daya alam yang ada diarahkan pada pemanfaatan yang berkelanjutan.

Lebih lanjut lagi beliau menambahkan bahwa komitmen ini ke depannya ingin diwujudkan dengan adanya Peraturan Daerah atau Peraturan Daerah Khusus (Perda/Perdasus) terkait untuk dapat memagari jalannya pemanfaatan berkelanjutan ini.

Pemda juga mempertimbangkan rencana pemanfaatan sumber daya alam secara baik seperti pengaturan eksploitasi secara bergiliran dan bertahap mengingat kondisi ketersediaan sumber daya yang ada, yang berbeda-beda jumlah dan letaknya.

Diharapkan pada masa mendatang, masyarakat Papua Barat masih bisa melihat dan merasakan manfaat dari hutan dan sumber daya alam yang dimiliki di tanahnya.

Sekda membuka secara resmi acara setelah menekankan dukungan sebesar-besarnya pada upaya sosialisasi dan tindak lanjut, sekaligus meminta agar semua pihak yang terlibat, yang hidup dan bekerja di Papua Barat ikut peduli dan memberikan masukan berarti.

Acara ini dilanjutkan dengan panel dan diskusi mengenai pemaparan hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB tentang Perubahan Iklim (Conference of Parties/COP) ke-21 di Paris 2015 (Paris Agreement 2015) dan Komitmen Nasional dalam Penurunan Emisi.

Diskusi yang berkembang setelah pemaparan menunjukkan antusiasme yang sangat besar dari para undangan yang berasal dari beragam kalangan, seperti akademisi, perwakilan SKPD terkait di tingkat kabupaten dan provinsi, LSM serta  UPT-UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Manokwari.

Peran serta daerah, masalah pengalihan informasi dan pengetahuan ke masyarakat, keterlibatan masyarakat sebagai pemilik hutan dan tanah, serta masalah pengamanan adalah beberapa hal yang muncul dalam tanya jawab dan diskusi ini.

Sebelum menutup acara, Kabadan menyampaikan bahwa sosialisasi ini masih akan berlanjut, karena saat ini masih diawali dengan memperoleh kesepahaman mengenai masalah perubahan iklim yang dihadapi bersama dan memulai dialog antar pihak.

Selanjutnya setelah kita sama-sama telah menentukan langkah apa yang bisa dilakukan, kita bisa mulai menjalin kerjasama dan merapatkan barisan untuk bersama-sama menghadapi perubahan iklim yang terjadi. (*Sarah)

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Foto Bulan Ini

Buku

Teknik Penagkaran Burung Mambruk (Goura Sp.)

Buku yang di tulis oleh Hadi Warsito ini menjelaskan tentang Burung Mambruk (Gorua Sp.)  yang di kategorikan mendapat perlindungan dari ...

Baca selengkapnya

30 Tahun Wanariset Anggresi

Buku 30 Tahun Wanariset Anggresi: Sebuah Hasil Kerja Bersama merupakan buku yang dibuat untuk memperkenalkan salah satu aset berharga BP2LHK Manokwari yang ...

Baca selengkapnya

Rediversifikasi Pangan Papua 2

Buku ini mengungkapkan keanekaragaman flora tanah Papua dan pemanfaatannya oleh masyarakat tradisional dan prospek pengembangan sebagai diversifikasi bahan pangan. Buku ...

Baca selengkapnya

Rediversifikasi Pangan Papua 1

Buku ini mengungkapkan keanekaragaman flora tanah Papua dan pemanfaatannya oleh masyarakat tradisional dan prospek pengembangan sebagai diversifikasi bahan pangan. Buku ...

Baca selengkapnya

Warta Matoa

Pos-pos Terbaru

Link Terkait

  • Pengunjung

    0110224
    Hari ini : 56
    Kemarin : 108
    Bulan ini : 1631
    Total Kunjungan : 110224
    Hits Hari ini : 334
    Total Hits : 1243192
    Who's Online : 7

    Survey Kepuasan Masyarakat

    Survey Kepuasan Masyarakat

    Bangga Buatan Dalam Negeri

    Bangga Buatan Dalam Negeri

    Visitor Map

    Flag Counter
    Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup Dan kehutanan